Beri Dukungan
first published at:
updated at:
    Flora
    Jawa Barat

Identitas Penamaan

Talas secara ilmiah dalam bahasa Latin dinamakan sebagai Colocasia esculenta. Secara internasional dalam bahasa Inggris talas populer dengan nama taro. Di Indonesia, tanaman ini selain dikenal dengan nama talas juga dikenal dengan nama keladi atau seratah. Di India, talas populer dengan nama arum, di Thailand dengan nama bon-nam dan di Vietnam dengan nama khoai nuwowsc atau khoai soj

Nama Genusnya Colocasia berasal dari sebuah kata dalam bahasa Yunani yaitu kolokasi yang digunakan untuk akar Nelumbo nucifera. Sedangkan nama spesifiknya, esculenta berarti dapat dimakan atau enak untuk dimakan (National Parks Board – Colocasia Esculenta, n.d.). 

Taksonomi

Kingdom

Plantae

Phylum

Tracheophyta

Class

Magnoliopsida

Order

Alismatales

Family

Araceae

Genus

Colocasia

Species

Colocasia esculenta

Asal

Darimana tanaman talas berada hingga kini masih menjadi perdebatan. Namun, para peneliti dan ahli arkeologi tumbuhan meyakini bahwa talas adalah satu tumbuhan tertua di dunia yang telah dibudidayakan sebelum tanaman padi tepatnya pada lebih dari 10.000 tahun lalu. Bukti arkeologi dari kepulauan Solomon menunjukan pemanfaatannya sudah ada sejak hampir 28.000 tahun yang lalu (Md. Jannatul Ferdaus et al., 2023). 

Beberapa peneliti meyakini bahwa talas berasal dari Asia Tengah Selatan, dari wilayah Indo-Melayu antara Myanmar dan Bangladesh atau dari wilayah Asia Tenggara dengan merujuk pada bukti bahwa seluruh spesies dari genus Colocasia berasal dari daerah tersebut. Meskipun begitu, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Ahmed et al. (2020) meyakini bahwa talas berasal dari wilayah Asia Tenggara melalui penelitian analisis pada struktur kelas genom kloroplas dimana kelas kloropas talas mungkin berasal dari Asia Tenggara pada evolusi spesies talas atau genus Colocasia, setidaknya pada akhir Miosen hingga Pliosen. 

Berikut kutipan hasil penelitian yang ditulis oleh Ahmed et al. (2020):

“Talas tumbuh liar di zona hutan hujan pada dataran rendah yang berdekatan di Australia dan Papua Nugini yang mewakini elemen flora Sunda yang muncul setelah tumbukan pertengahan Miosen dengan Sahul dan munculnya rangkaian pulau - pulau yang menghubungkan pada akhir Miosen hingga Pliosen. Kemudian, burung yang tertarik dengan buah talas mungkin membawa benih di antara habitat basah yang diperlukan untuk perkecambahan benih dan kelangsungan hidup bibit ke seluruh kepulauan Sunda atau Nusa Tenggara dan pulau - pulau yang mengarah ke Sahul.”  

Talas dibawa oleh orang - orang Polinesia ke Selandia Baru dan wilayah Oseania hingga kepulauan Hawaii pada sekitar tahun 450 Masehi. Nama populernya sendiri, taro, berasal dari bahasa Maori, berawal ketika Kapten Cook “menemukan” Kepulauan Hawaii pada tahun 1778 dan menemukan bahwa pada saat itu di sana telah dibudidayakan sebanyak 300 jenis talas.  

Penyebarannya ke wilayah China dan Arab, Mesir serta Afrika timur setidaknya terjadi pada sekitar 2000 tahun yang lalu. Dari sana talas kemudian disebarkan oleh orang Arab ke Afrika Barat hingga akhirnya sampai di Eropa melalui Mesir (Rojas-Sandoval & Acevedo-Rodríguez, 2022). Kini talas telah banyak dibudidayakan pada setidaknya 50 negara di dunia dengan Nigeria hadir sebagai negara produsen talas terbesar di dunia. 

talas - Colocasia esculenta - 1.jpg

Deskripsi Bentuk dan Habitat

Talas merupakan tanaman herba hijau abadi yang dapat tumbuh hingga ketinggian yang mencapai 1 sampai 2 meter. Daun - daunnya lebar dengan permukaan yang halus dan bentuk yang menyerupai bentuk panah yang menjulai ke bawah. Talas memiliki tangkai daun yang berdaging tebal dan berwarna hijau. Tangkai - tangkai tersebut menempel pada bagian tengah daun dengan panjang kira - kira 25 - 80 cm.

Batangnya menghasilkan umbi pendek yang tebal dan berbentuk bulat silindiris dengan panjang yang dapat mencapai hingga 35 cm. Kulit umbinya kasar dan berserat.

Bunga pada talas terdapat pada tangkainya yang muncul secara individu atau berkelompok. Buahnya menyerupai buah beri dengan warna kuning kecokelatan ketika matang. Di Indonesia, talas dapat ditemui dengan mudah di hutan lembab, area tepi sungai atau lahan kosong.

Sifat Invasif

Di Australia, talas telah dinyatakan sebagai gulma yang menyerang saluran air dan lahan bahan yang menggantikan tanaman air asli. Talas masuk daftar 200 tanaman paling invasif di wilayah Queensland dan telah dinyatakan sebagai masalah di wilayah pesisir New South Wales dan sepanjang perairan di Australia Barat (Rojas-Sandoval & Acevedo-Rodríguez, 2022). 

Kegunaan dan Manfaat Talas bagi Kesehatan

Talas di berbagai daerah di dunia sejak zaman dahulu kala telah menjadi bahan konsumsi baik bagi hewan dan manusia melalui umbinya. Namun, pengkonsumsiannya lebih banyak dilakukan oleh manusia. Hal ini terutama karena umbinya mengandung tepung. 

Di Indonesia sendiri talas sudah bukan menjadi bahan makanan yang asing. Pemanfaatannya telah di lakukan di berbagai daerah di nusantara. Di Jawa, talas diolah menjadi manisan yang dibumbui dengan kelapa dan gula. Keripik talas juga merupakan salah satu makanan populer di daerah tersebut. Daunnya digunakan sebagai pembungkus buntil yang membungkus ikan yang telah dibumbui dengan rempah - rempah, kelapa parut dan sayuran. 

di Siprus, talas telah digunakan semenjak zaman kekaisaran Romawi dengan cara pengolahan berupa digoreng atau dimasak dengan jagung, babi atau ayam yang dibaluri dengan saus tomat. 

Di Hawaii dan sebagian wilayah Polinesia, umbi talas dimasak dan ditumbuk hingga menjadi pasta yang kemudian difermentasi untuk dijadikan ‘poi’. sedangkan di Filipina, talas dimanfaatkan terutama ketika persediaan pati dan sayuran hijau terbatas.

Talas atau taro sebagaimana yang kadang disebut juga sebagai ‘kentang’ di wilayah tropis memiliki kandungan proporsi yang lebih tinggi dibanding kentang. Kandungan tersebut diantaranya yaitu protein, kalsium dan fosfor yang lebih tinggi serta cenderung memiliki kadar lemak yang lebih sedikit dan kaya akan vitamin A dan C. karena butiran patinya yang sangat kecil, talas hampir dapat dicerna sepenuhnya (Colocasia Esculenta (Vegetable Group) - Plant Finder, 2024). 

Sebagai bahan pengobatan tradisional, talas telah digunakan di kawasan Asia dan Afrika untuk membantu mengobati hipertensi arteri, masalah liver, maag, gigitan ular dan rematik (Rojas-Sandoval & Acevedo-Rodríguez, 2022). 


Bagikan catatan ini

Ikuti Studiofru | Green Project melalui media sosial untuk mendapatkan informasi singkat mengenai flora dan fauna

Catatan Terbaru